January 05, 2010

Kandidat Ketua Umum Reuni SMUNCI Angkatan 1998







ABDUL MUHYI Pangeran IPA 1 
" Kawanku mari bersilaturahmi....tong hilaf pilih abdi"








EPI APIPAH eks Model 3 IPA 2
"Mohon Doa Restu dan Dukungannya"




DUDI ISKANDAR penyelamat 3 IPS 1 
" Kawan dan sahabat, jagan salah pilih ya...."


  






DODOY MUHDOR pelopor 3 IPS 2
" jiwa ragaku untuk kalian..."







ARIEF ROKHMAN jubir 3 IPS 3
" Hidup adalah Perjuangan"






Bagi semua alumni SMUNCI angkatan 1998. silahkan pilih kandidat masing-masing melalui poolling yang tersedia pada kolom sebelah kanan, tinggal VOTE aza deh....poolling di tutup bulan depan okay...merdeka !!!

January 04, 2010

Call Centre Reuni

Epi Apipah : 021.90399535 - 0813.86544554

Udate Reuni IPS 1

Koordinator : Dudi Iskandar
Wakil Koordinator : Engkos "Boheck" Kosasaih & Miming Benjamin
Sponsorship : Ade Hidayat

Selamat atas pelantikan koordinator dan sponsopship kelas 2 IPS 1, bravo !!!

December 30, 2009

LOWONGAN KEPANITIAAN REUNI

Dibutuhkan kepanitiaan reuni SMUNCI 1998, dengan posisi sebagai berikut :
1 orang Ketua Panitia
1 orang Wakil Ketua
1 orang Bendahara
1 orang Sekretaris

Dibutuhkan juga beberapa kordinator sebagai berikut :
Koordinator Acara : terisi oleh Sdr. Caryadi Tewod (IPS 2)
Koordinator Konsumsi : terisi oleh Sdri. Setiawati, SP. (IPA 1)
Koordinator Transportasi & Perizinan : terisi oleh Sdr. Achdiat "Akang Hedi" (IPS 3)
Koordinator Informasi & Dokumentasi : terisi oleh Iing Nasihin (IPA 2)
Koordinator Keamanan : ......
Koordinator Kelas :
IPA 1 : Abdul Muhyi & partner
IPA 2 : Epi Apipah & partner
IPS 1 :......
IPS 2 : Dodoy & partner
IPS 3 : Agum Priatna & partner

Koordinator lian apabila masih ada saran dan ide serta masukan, silahkan tinggalkan pesan di kolom pesan singkat.

December 29, 2009

REUNI SMUNCI ANGKATAN 1998

LOWONGAN KEPANITIAAN

Dibutuhkan segera kepanitiaan acara REUNI SMUNCI ANGKATAN 1998
bagi yang tertarik disediakan uniform khusus dan spesial (sumbangan khusus Bapak Dede Setiawan Sholeh)

untuk acara reuni diagendakan outdoor dengan kegiatan outbond
bagi yang punya ide-ide kreatif bisa posting ke saya di e03498033@yahoo.com
acara outbond akan dimotoro oleh sdr. CARYADI TEWON (3 IPS 2) yang memang pekerjaan sehari-harinya bergerak dibidang tersebut.

Acara reuni direncanakan akan dilaksanakan di Kuningan (Cidomba, Tirtasanita, Palutungan, etc) atau di tempat lain (Bogor, Bandung, etc) mohon masukan dari teman2.

Saran2 tentang waktu, agenda acara dan tempat bisa diposting ke alamt email diatas okay...bravo!!!

December 28, 2009

DATABASE ALUMNI SMUNCI Angkatan 1998

NO NAMA Kelas Kontak




1 Andri 3 IPA 1
2 Abdul Muhyi*) 3 IPA 1
3 Agus Ramdani 3 IPA 1
4 Ani Ratna Dewi 3 IPA 1
5 Asep Arif Nurfitri 3 IPA 1
6 B Anjas Asmara 3 IPA 1
7 Budi Lesmana 3 IPA 1
8 Carmah 3 IPA 1
9 Daryanto 3 IPA 1
10 Dadang Darsono 3 IPA 1
11 Dani Mardani 3 IPA 1
12 Eti sintia Lestari 3 IPA 1
13 Evi Trisnowati 3 IPA 1
14 Firmansyah 3 IPA 1
15 Heri Apriatiningsih 3 IPA 1
16 Husnul Wahdiani 3 IPA 1
17 Ipah 3 IPA 1
18 Ira Nurfajar 3 IPA 1
19 Iwan Suwandi 3 IPA 1
20 Joko Maulana Adhi 3 IPA 1
21 Kosasih 3 IPA 1
22 Mahmudin 3 IPA 1
23 Mustofa 3 IPA 1
24 Maman Rukmad 3 IPA 1
25 Onah Siti Fatonah 3 IPA 1
26 Oyo Sutaryo 3 IPA 1
27 Rahayu Tri Wahyuni 3 IPA 1
28 Ratna Dewi 3 IPA 1
29 Reni Mayasari 3 IPA 1
30 Ronengsih 3 IPA 1
31 Sukanda 3 IPA 1
32 Setiawati 3 IPA 1
33 Susilawati 3 IPA 1
34 Tendi 3 IPA 1
35 Yan Ferdiana 3 IPA 1
36 Yeyen Fitriyani 3 IPA 1
37 Ade A Himawan 3 IPA 2
38 Ading Sohidin 3 IPA 2
39 Ali Wardana 3 IPA 2
40 Andri Hernandi 3 IPA 2
41 Asep S Ma'ruf 3 IPA 2
42 Daddi Permadi 3 IPA 2
43 Dedeh W 3 IPA 2
44 Dewi Oktavia 3 IPA 2
45 Didi Supriyadi 3 IPA 2
46 Epi Apipah*) 3 IPA 2
47 Heri Suheri 3 IPA 2
48 Ida Farida 3 IPA 2
49 Idu Jakaria 3 IPA 2
50 Iing Nasihin 3 IPA 2 081324088139
51 Imi Rohimi 3 IPA 2
52 Ipang Sri M 3 IPA 2
53 Irwan Sujana 3 IPA 2
54 Jojo Subagja 3 IPA 2
55 Lina Herlina 3 IPA 2
56 Maman Rohmansyah 3 IPA 2
57 Nanin Ratnanengsih 3 IPA 2
58 Nursolihin 3 IPA 2
59 Oo Prabowo 3 IPA 2
60 Sartono 3 IPA 2
61 solihin 3 IPA 2
62 Susi Susilawati 3 IPA 2
63 Tatang Hermawan 3 IPA 2
64 Toto Rudianto 3 IPA 2
65 Wanding 3 IPA 2
66 Yanto 3 IPA 2
67 Yadi Supriyadi 3 IPA 2
68 Yayan Daryana 3 IPA 2
69 Yayan Sutiyono 3 IPA 2
70 Yeyen Maryani 3 IPA 2
71 Yuyun Daryuni 3 IPA 2
72 Aam Kamsani 3 IPS 1
73 Aan Anisah 3 IPS 1
74 Aat Miati 3 IPS 1
75 Abbas sahroni 3 IPS 1
76 Ade Hidayat 3 IPS 1
77 Ade Komariah 3 IPS 1
78 Ading Suparman 3 IPS 1
79 Ani Hanifah 3 IPS 1
80 Aris Haris 3 IPS 1
81 Cicih Ratnengsih 3 IPS 1
82 Dedeh Sukaesih 3 IPS 1
83 Dedi Heryadi 3 IPS 1
84 Deffi Milasari 3 IPS 1
85 Dodo Dohimin 3 IPS 1
86 Doni Priatna 3 IPS 1
87 Dudi Nurhaedi 3 IPS 1
88 Dudy Iskandar 3 IPS 1
89 Dulhalim 3 IPS 1
90 Elih Solihat 3 IPS 1
91 Engkos Kosasih 3 IPS 1
92 Eti Kusmiati 3 IPS 1
93 Eulis Suhartini 3 IPS 1
94 Heni Dasriyani 3 IPS 1
95 Iid Hidayat 3 IPS 1
96 Junengsih 3 IPS 1
97 Kusti'ah 3 IPS 1
98 Maemunah 3 IPS 1
99 Miming Benjamin 3 IPS 1
100 Nurwahyudi 3 IPS 1
101 Ria Libriyanti 3 IPS 1
102 Sukriana 3 IPS 1
103 Sri Handriyani 3 IPS 1
104 Susi N Ismilastiwi 3 IPS 1
105 Taryono 3 IPS 1
106 Tursini 3 IPS 1
107 Tono Kartono 3 IPS 1
108 Tri Hartati S 3 IPS 1
109 Uun Kurniasih 3 IPS 1
110 Wasriani 3 IPS 1
111 wawang Wasriati 3 IPS 1
112 Yanto Herdiyanto 3 IPS 1
113 Aan Darwati 3 IPS 2
114 Abdul Gofur 3 IPS 2
115 Ako Ruska 3 IPS 2
116 Andi Sunardi 3 IPS 2
117 Andriani 3 IPS 2
118 Caryadi 3 IPS 2
119 Cicih Yuningsih 3 IPS 2
120 Dadang Kosmara 3 IPS 2
121 Didin Jamaludin 3 IPS 2
122 Dodoy M Muchdor*) 3 IPS 2
123 Emod 3 IPS 2
124 Enok Susanti 3 IPS 2
125 Epa Priyatna 3 IPS 2
126 Epi Murniyati 3 IPS 2
127 Ero Kosmara 3 IPS 2
128 Euis Susanti 3 IPS 2
129 Heriyawati 3 IPS 2
130 Hendri Juhani 3 IPS 2
131 Jam'ah 3 IPS 2
132 Jum'ati 3 IPS 2
133 Jumena 3 IPS 2
134 Kusriah 3 IPS 2
135 Lutfi 3 IPS 2
136 Lia Eliano 3 IPS 2
137 Lina Rosdiana 3 IPS 2
138 Nenah Sumanah 3 IPS 2
139 Nining Warning 3 IPS 2
140 Nyai Ayin N 3 IPS 2
141 Oyo 3 IPS 2
142 Rasidi 3 IPS 2
143 Rustiah 3 IPS 2
144 Rikana S D 3 IPS 2
145 Rina Martina 3 IPS 2
146 Sunandang 3 IPS 2
147 Sunarno 3 IPS 2
148 Siti Hasanah 3 IPS 2
149 Tarheni 3 IPS 2
150 Ujang Darmadi 3 IPS 2
151 Upen Apandi 3 IPS 2
152 Yana 3 IPS 2
153 Yeni Widyaningsih 3 IPS 2
154 Yus Husnul H 3 IPS 2
155 Aan Arnati 3 IPS 3
156 Aan Darwati 3 IPS 3
157 Abbas Surahman 3 IPS 3
158 Aep Saepudin 3 IPS 3
159 Agum Priatna G*) 3 IPS 3
160 Ali Mulyadi 3 IPS 3
161 Arif Rohman 3 IPS 3
162 Asep Sudrajat 3 IPS 3
163 Dede Setiawan S 3 IPS 3
164 E Juhana 3 IPS 3
165 Eli Yulianti 3 IPS 3
166 Erni Winarni 3 IPS 3
167 Eros Rosida 3 IPS 3
168 Euis Sartika 3 IPS 3
169 Heriawati 3 IPS 3
170 Hendrian H 3 IPS 3
171 Iing Sumarna 3 IPS 3
172 Iis Aisah 3 IPS 3
173 Imas Sumiati 3 IPS 3
174 Indar Cahyadi 3 IPS 3
175 Lili Sadili 3 IPS 3
176 Maya 3 IPS 3
177 Mamah Hotimah 3 IPS 3
178 Maman Rusmana 3 IPS 3
179 Mila Indra S 3 IPS 3
180 Muhamad Ahdiat 3 IPS 3
181 M Firman S 3 IPS 3
182 Nandang Devi N 3 IPS 3
183 Neni Rohaeni 3 IPS 3
184 Rasih 3 IPS 3
185 Renu Aerosih 3 IPS 3
186 Sarti 3 IPS 3
187 Sri Astuti 3 IPS 3
188 Sulaeman Sidik 3 IPS 3
189 Tomi 3 IPS 3
190 Tatang Tarudi 3 IPS 3
191 Tutik Kartika A 3 IPS 3
192 Uja Jaenudin 3 IPS 3
193 Wahyudi 3 IPS 3
194 Wawan Rahmawan 3 IPS 3
195 Wiwin Winaningsih 3 IPS 3
196 Yeni Suryeni 3 IPS 3




Keterangan



*) : Koordinator Kelas


3 IPS 1 belum ada koordinator

January 22, 2008

BENCANA ALAM DAN ETIKA LINGKUNGAN

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbutan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS : 30 : 41)”

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumberdaya alam. Bahkan Indonesia mendapat julukan sebagai salah satu negara mega biodiversity di bumi ini. Dengan kekayaan alamnya, pada awal-awal kemerdekaan dan kondisi bangsa masih carut marut Indonesia mampu melakukan pembangunan disegala sektor dan mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain.
Tapi kenapa, kini Indonesia seakan terpuruk dan belum mampu lagi untuk berdiri kokoh. Dari sisi sosial ekonomi, banyak masyarakat negeri ini yang masih hidup di bawah ambang kesejahteraan. Penyakit dan kelaparan akibat bencana alam dan konflik belum bisa kita tuntaskan, bahkan polio dan busung lapar melanda beberapa daerah di negeri ini.
Belum juga selesai masalah di atas, kini kita dihadapkan lagi pada masalah ekologi. Pengrusakan dan penurunan fungsi-fungsi ekologi terus berlanjut. Akibat dari kemerosotan (degradasi) sistem ekologi telah ditunjukan oleh alam. Banjir, tanah longsor, kekeringan, suhu udara yang meningkat, tidak menentunya iklim dan gejala-gejala alam lainya merupakan tanda-tandanya.
Hutan sebagai karunia Allah SWT dianugerahkan untuk dimanfaatkan oleh segenap makhluk yang diciptakan-Nya. Diantara semua ciptaan-Nya, manusialah yang paling dituntut perannya. Agar anugerah tersebut dikelola dan bermanfaat sesuai dengan harapan sang Pemberi. Dilihat dari potensinya, hutan dinilai sebagai salah satu sumberdaya alam yang menyimpan sejuta misteri, sehingga diperlukan suatu pemahaman secara holistik. Anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya ini wajib disyukuri. Kita harus memelihara dan memanfaatkan sesuai dengan kemampuan hutan itu sendiri, sehingga tetap lestari.
Dari sekian banyak manfaat hutan tersebut, secara garis besar dibagi menjadi manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi. Secara ekologi hutan berperan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan, penyerasi dan penyeimbang lingkungan secara global. Secara sosial ekonomi hutan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu, rotan, bunga, buah, lebah madu, air, rekreasi, aktivitas budaya (ritual) dan sebagainya.
Kerusakan hutan merupakan salah satu contoh hasil perbuatan kita (manusia) yang mengakibatkan bencana bagi bumi ini. Pada akhirnya manusia jugalah yang akan merasakan akibatnya. Hutan mempunyai multifungsi yang sangat berharga bagi kehidupan. Adanyanya hutan manusia dapat membangun rumah, mengairi sawah, menghirup udara segar dan sebagainya. Hal tersebut dikarenakan hutan mempunyai fungsi dan peranan sebagi penghasil kayu, pengatur tata air, produsen oksigen serta penyangga kehidupan.
Akhir-akhir ini, kita merasa resah dan ketakutan. Ketika pemerintah (PLN) mengumumkan akan melakukan pemadaman aliran listrik secara bertahap karena kurangnya pasokan listrik negara. Sebenarnya itu merupakan salah satu peringatan bagi kita. Alam ini tidak mampu lagi “mengelola” air dengan baik sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena fungsi alam (hutan) sebagai pengatur tata air (hidrologi) tidak dapat berjalan dengan maksimal karena ulah tangan kita yang tega “membabat” hutan demi untuk keuntungan yang sesaat.
Padahal, kita (manusia) sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini seharusnya sadar. Kita merupakan bagian dari sistem alam ini dan tidak selayaknya memperlakukan alam secara tidak bijaksana. Dari sisi religi (Islam) sebagaimana penulis paparkan diatas, seperti bencana alam, penyakit, kelaparan, pengrusakan lingkungan dan sebagainya nampaknya sebagai suatu suratan takdir dari yang Maha Kuasa. Tetapi sebagaimana Allah S. W. T. telah menjelaskan pada QS : 30 : 41, bahwa sebenarnya semua kerusakan (bencana dll) yang terjadi di atas bumi ini adalah hasil perbuatan kita (manusia). Atau lebih sederhananya lagi merupakan suatu hukum sebab akibat.
Dari pemaparan di atas, belum terlambat bagi kita untuk melakukan yang terbaik dan berbuat bijaksana bagi alam ini. Etika lingkungan adalah salah satu sikap yang perlu dibina dan ditanamkan pada setiap individu. Setiap individu dapat mengerti dan melalui etika lingkungan diharapkan memahami fungsi dan peranan alam bagi kehidupan. Sehingga akan melakukan yang terbaik dan berbuat bijaksana bagi alam ini.
Etika lingkungan sebenarnya telah dianut oleh nenek moyang kita, secara tradisional, yang bersumber pada agama (ecoteology) dan mungkin juga mitologi, legenda , termasuk cerita-cerita rakyat. Jejak langkah ajaran tersebut masih dapat kita kenali dalam bentuk karifan tradisional yang ditunjukan oleh suku-suku pedalaman yang masih kuat memegang etika lingkungan kuno seperti suku Dayak, Baduy, Nias, Anak Dalam (Kubu), Mentawai dan sebagainya.
Etika lingkungan yang masih dipegang kuat oleh suku-suku pedalaman, seharusnya kita tiru untuk diaplikasikan. Etika Lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, listrik dan bahan bakar.
Sudah saatnya kita (manusia) menyadari kesalahan dan tidak lagi berkehendak untuk menaklukan alam, tetapi ingin hidup secara harmonis dan produktif dengan alam dan lingkungan.

Bacaan :
Budianta, 1997. Eksekutif Bijak Lingkungan. Pustaka Pembangunan Swadaya Nusantara. Jakarta.
Keraf, 2002. Etika Lingkungan.Kompas Media Nusantara. Jakarta
Soemarwoto, 2001. Ekologi, Lingkungan Hidup dan Pembangunan. Penerbit Djambatan. Jakarta

October 15, 2005

TNGC UNTUK MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

Kawasan hutan gunung Ciremai yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Kuningan dan Majalengka, mempunyai fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi masyarakat sekitarnya. Fungsi tersebut mencakup tiga (3) aspek yaitu fungsi ekologi, fungsi produksi dan fungsi ekonomi.

Selama ini, fungsi yang lebih diperhatikan adalah dua fungsi yang disebutkan terakhir, yaitu fungsi produksi dan fungsi ekonomi. Padahal dalam sistem pengelolaan suatu kawasan hutan yang ideal, harus ada keseimbangan dari ketiga fungsi di atas tersebut sehingga tujuan ekologi, produksi dan ekonomi dapat tercapai.

Mengingat kawasan hutan gunung Ciremai termasuk kedalam klasifikasi hutan pegunungan dengan ketinggian dan kelerengan yang bervariasi. Disamping itu juga, kawasan ini mempunyai keanekaragaman flora, fauna dan potensi hutan lainnya yang tinggi. Maka akan lebih cocok apabila kepentingan ekologi lebih diutamankan dengan menetapkan ciremai sebagai kawasan konservasi.

“Konservasi”, kesan yang timbul dibenak dan fikiran sebagian masyarakat yang belum mengerti dan memahami hal tersebut adalah suatu kawasan yang tertutup, teriosolasi dan masyarakat sekitar tidak mempunyai akses untuk masuk dan melakukan kegiatan di dalam kawasan tersebut. Hal yang cukup menggelikan adalah kesan tersebut juga muncul dibenak dan fikiran para “pahlawan lingkungan” atau kelompok yang meng-atas nama-kan masyarakat atau kelompok yang katanya peduli Ciremai atau apalah namanya, dan menyebar luaskannya informasi tersebut kepada mayarakat yang belum mengerti. Tetapi penulis juga belum tahu apakah mereka (“penyelamat lingkungan” dll) benar-benar belum mengerti atau pura-pura tidak mengerti tentang konservasi. Kalau mereka “belum mengerti” ada baiknya jangan dulu menyebarkan informasi yang nantinya membingungkan masyarakat. Tetapi kalau alasannya “pura-pura tidak mengerti”, kembali penulis juga tidak tahu apa alasan mereka menyebarkan informasi yang membingungkan tentang arti konservasi.

Sebenarnya konservasi tidak hanya perlindungan, ada tiga (3) aspek yang sangat prinsip dalam pelaksaan konservasi yaitu aspek perlindungan, aspek pengawetan dan aspek pemanfaatan. Hal ini sejalan dengan tujuan sistem pengelolaan kawasan hutan yang ideal yaitu tercapainya fungsi ekologi, produksi dan ekonomi yang diimplisitkan oleh masyarakat hutan Kabupaten Kuningan dengan slogan leweung hejo ra’yat ngejo.

Dalam implementasinya kawasan konservasi mempunayi beberapa alternatif pilihan, yang akan disesuaikan dengan kriteria sumberdaya hutan dan tingkat ketergantungan masyarakat terhadap hutan. Ada dua (2) jenis kawasan konservasi yaitu Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). KSA terbagi ke dalam dua bentuk kawasan yaitu kawasan Suaka Alam (SA) dan kawasan Cagar Alam (CA). Pada KSA sedikit sekali pelibatan masyarakat dalam pengelolaannya (akses masyarakat terbatas). KPA terbagi ke dalam tiga (3) bentuk kawasan yaitu kawasan Taman Nasional (TN), Taman Hutan Raya (Tahura) dan Taman Wisata Alam (TWA).

Melihat tingkat ketergantungan masyarakat disekitar kawasan hutan gunung Ciremai yang sangat tinggi, maka alternatif pilihan kawasan konservasi yang paling cocok dan ideal adalah berbentuk Taman Nasional. Hal ini dikarenakan dalam pengelolaan Taman Nasional kerlibatan masyarakat (kolaborasi) sangat tinggi sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 19./2004 tentang Kolaborasi Pengelolaan Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam yaitu pelibatan masyarakat dalam : penataan kawasan, penyusunan rencana pengelolaan, pembinaan daya dukung kawasan, pemanfaatan kawasan, peningkatan kesejahteraan dan kesadaran masyarakat, penelitian dan pengembangan, perlindungan dan pengamanan potensi kawasan, pengembangan sumberdaya manusia dan pembangunan sarana dan prasarana.

Melihat begitu besarnya keterlibatan masyarakat dalam Taman Nasional maka Keputusan Menteri Kehutanan RI No. SK. 424/Menhut-II/2004 tanggal 19 Oktober 2004 tentang Perubahan Fungsi Kawasan Hutan Gunung Ciremai menjadi Taman Nasional perlu dilanjutkan dan didukung oleh semua pihak yang masih merasa “memiliki” dan peduli terhadap kawasan hutan gunung Ciremai. Tidak ada satu alasan pun yang logis apabila dalih masyarakat tidak punya jaminan akses ke dalam kawasan Taman Nasional terus digulirkan dan dihembuskan, apalagi jaminan akses masyarakat ke dalam Taman Nasional lebih dipertegas lagi dengan surat Direktorat Jenderal Perlinduungan Hutan dan Konservasi Alam (Dirjen PHKA) No. S. 56/IV-KK/2005 tanggal 26 Januari 2005 tentang Tindak Lanjut Taman Nasional Gunung Ciremai, yang dalam salah satu pointnya menjelaskan bahwa program PHBM yang mempertimbangkan aspek ekologis, aspek konservasi, sosial ekonomi dan perlindungan terhadap kawasan dari perusakan yang selama ini dilaksanakan dan relevan dengan fungsi kawasan gunung Ciremai sebagai Taman Nasional tetap dapat dilanjutkan.

Jadi sangat jelas, bahwa dengan perubahan fungsi kawasan hutan gunung Ciremai menjadi Taman Nasional akses masyarakat ke dalam Taman Nasional tidak tertutup, bahkan masyarakat mempunyai keterlibatan yang sangat besar mulai dari perencanaan sampai pengelolaan Taman Nasional. Maka SK Menhut No. SK. 424/Menhut-II/2004 perlu dilanjutkan dan didukung, untuk kawasan hutan gunung Ciremai yang lebih baik, untuk masyarkat sekitar hutan yang lebih sejahtera dan untuk fungsi lingkungan yang lebih baik juga. Amin…