October 13, 2005

BENCANA ALAM & ETIKA LINGKUNGAN

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbutan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatn mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (QS : 30 : 41)”

Indonesia adalah negara yang sangat kaya akan sumberdaya alam. Bahkan Indonesia mendapat julukan sebagai salah satu negara mega biodiversity di bumi ini. Dengan kekayaan alamnya, pada awal-awal kemerdekaan dan kondisi bangsa masih carut marut Indonesia mampu melakukan pembangunan disegala sektor dan mensejajarkan diri dengan bangsa-bangsa lain.

Tapi kenapa, kini Indonesia seakan terpuruk dan belum mampu lagi untuk berdiri kokoh. Dari sisi sosial ekonomi, banyak masyarakat negeri ini yang masih hidup di bawah ambang kesejahteraan. Penyakit dan kelaparan akibat bencana alam dan konflik belum bisa kita tuntaskan, bahkan polio dan busung lapar melanda beberapa daerah di negeri ini.

Belum juga selesai masalah di atas, kini kita dihadapkan lagi pada masalah ekologi. Pengrusakan dan penurunan fungsi-fungsi ekologi terus berlanjut. Akibat dari kemerosotan (degradasi) sistem ekologi telah ditunjukan oleh alam. Banjir, tanah longsor, kekeringan, suhu udara yang meningkat, tidak menentunya iklim dan gejala-gejala alam lainya merupakan tanda-tandanya.

Hutan sebagai karunia Allah SWT dianugerahkan untuk dimanfaatkan oleh segenap makhluk yang diciptakan-Nya. Diantara semua ciptaan-Nya, manusialah yang paling dituntut perannya. Agar anugerah tersebut dikelola dan bermanfaat sesuai dengan harapan sang Pemberi. Dilihat dari potensinya, hutan dinilai sebagai salah satu sumberdaya alam yang menyimpan sejuta misteri, sehingga diperlukan suatu pemahaman secara holistik. Anugerah Allah SWT yang tak ternilai harganya ini wajib disyukuri. Kita harus memelihara dan memanfaatkan sesuai dengan kemampuan hutan itu sendiri, sehingga tetap lestari. Dari sekian banyak manfaat hutan tersebut, secara garis besar dibagi menjadi manfaat ekologi, sosial, dan ekonomi. Secara ekologi hutan berperan sebagai salah satu penentu sistem penyangga kehidupan, penyerasi dan penyeimbang lingkungan secara global. Secara sosial ekonomi hutan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu, rotan, bunga, buah, lebah madu, air, rekreasi, aktivitas budaya (ritual) dan sebagainya.

Kerusakan hutan merupakan salah satu contoh hasil perbuatan kita (manusia) yang mengakibatkan bencana bagi bumi ini. Pada akhirnya manusi jugalah yang akan merasakan akibatnya. Hutan mempunyai multifungsi yang sangat berharga bagi kehidupan. Adanyanya hutan manusia dapat membangun rumah, mengairi sawah, menghirup udara segar dan sebagainya. Hal tersebut dikarenakan hutan mempunyai fungsi dan peranan sebagi penghasil kayu, pengatur tata air, produsen oksigen serta penyangga kehidupan.

Akhir-akhir ini, kita merasa resah dan ketakutan. Ketika pemerintah (PLN) mengumumkan akan melakukan pemadaman aliran listrik secara bertahap karena kurangnya pasokan listrik negara. Sebenarnya itu merupakan salah satu peringatan bagi kita. Alam ini tidak mampu lagi “mengelola” air dengan baik sebagai sumber pembangkit tenaga listrik. Hal tersebut bisa dimaklumi, karena fungsi alam (hutan) sebagai pengatur tata air (hidrologi) tidak dapat berjalan dengan maksimal karena ulah tangan kita yang tega “membabat” hutan demi untuk keuntungan yang sesaat.

Padahal, kita (manusia) sebagai makhluk yang paling sempurna di muka bumi ini seharusnya sadar. Kita merupakan bagian dari sistem alam ini dan tidak selayaknya memperlakukan alam secara tidak bijaksana. Dari sisi religi sebagaimana penulis paparkan diatas, seperti bencana alam, penyakit, kelaparan, pengrusakan lingkungan dan sebagainya nampaknya sebagai suatu suratan takdir dari yang Maha Kuasa. Tetapi sebagaimana Allah S. W. T. telah menjelaskan pada QS : 30 : 41, bahwa sebenarnya semua kerusakan (bencana dll) yang terjadi di atas bumi ini adalah hasil perbuatan kita (manusia). Atau lebih sederhananya lagi merupakan suatu hukum sebab akibat.

Dari pemaparan di atas, belum terlambat bagi kita untuk melakukan yang terbaik dan berbuat bijaksana bagi alam ini. Etika lingkungan adalah salah satu sikap yang perlu dibina dan ditanamkan pada setiap individu. Setiap individu dapat mengerti dan melalui etika lingkungan diharapkan memahami fungsi dan peranan alam bagi kehidupan. Sehingga akan melakukan yang terbaik dan berbuat bijaksana bagi alam ini.

Etika lingkungan sebenarnya telah dianut oleh nenek moyang kita, secara tradisional, yang bersumber pada agama (ecoteology) dan mungkin juga mitologi, legenda , termasuk cerita-cerita rakyat. Jejak langkah ajaran tersebut masih dapat kita kenali dalam bentuk karifan tradisional yang ditunjukan oleh suku-suku pedalaman yang masih kuat memegang etika lingkungan kuno seperti suku Dayak, Baduy, Nias, Anak Dalam (Kubu), Mentawai dan sebagainya.

Etika lingkungan yang masih dipegang kuat oleh suku-suku pedalaman, seharusnya kita tiru untuk diaplikasikan. Etika Lingkungan dapat dimulai dari hal-hal yang kecil dan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air, listrik dan bahan bakar.

Sudah saatnya kita (manusia) menyadari kesalahan dan tidak lagi berkehendak untuk menaklukan alam, tetapi ingin hidup secara harmonis dan produktif dengan alam dan lingkungan.

1 comment:

taco2005 said...

Unique "Four Eyed" Strategy: iTunes, MySpace.com, The New iPod, and a Video Podcast Series
With Apple 's announcement of its new video screen iPod just one day old, independent filmmakers are already eyeing how the device might help them distribute their own work.
I just found your blog and think it is great! I am going to tell my friends about it.

I have a gourmet chocolate store online. It has all types of gourmet chocolate items.

Stop in and check it out if you get time. Oh, and sign up for the newsletter and get a discount code.